Pemantauan titik panas, menurut perusahaan, dilakukan dengan memanfaatkan data satelit NASA dan sistem SIPONGI KLHK.
Namun, PT ABT menegaskan bahwa proses tersebut tidak dilakukan secara sendiri.
Setiap tahapan penanganan disebut melibatkan unsur multipihak dari Satgas Karhutla Kabupaten Tebo, di antaranya BPBD Kabupaten Tebo, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Polsek Sumay, Babinsa 05 Muara Tebo, KPHP X Tebo Barat, serta pemerintah desa setempat.
PT ABT menyebut kesigapan tim RPK, personel PPH dan sinergi dengan tim gabungan di lapangan menjadi faktor penting dalam proses penanganan.
Perusahaan mengklaim titik api yang telah terverifikasi berhasil dikendalikan dan dipadamkan hingga tuntas dalam waktu kurang dari 24 jam. Dengan langkah tersebut, PT ABT menyatakan dampak kebakaran dapat diminimalisir sehingga api tidak meluas ke wilayah lainnya.
Sementara itu, terkait luasan kawasan yang terbakar maupun area yang telah dipadamkan, PT ABT menyatakan belum dapat memastikan angka secara akurat.
Ketika dihubungi melalui WhatsApp, Manajer Komunikasi PT ABT, Nety Riana, menyampaikan bahwa data mengenai luasan kawasan saat ini masih berdasarkan pengamatan visual dan perkiraan di lapangan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat perusahaan belum dapat memastikan luasan secara pasti karena pengukuran berdasarkan pengamatan visual dikhawatirkan memiliki tingkat akurasi yang rendah.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, satu hamparan area yang terbakar diperkirakan memiliki luasan sekitar 0,5 hingga 2 hektare. Namun, pengukuran luasan secara lebih akurat disebut belum menjadi prioritas utama dalam penanganan saat ini.




