Sungai Balenggo Tercemar PETI, Warga Menjerit – Hukum Seakan Tak Bertaring

Avatar
Sejumlah mesin dompeng terlihat beroperasi di Sungai Balenggo, Desa Simpang Limbur Merangin. (INI/Ist)

Merangin – Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Desa Simpang Limbur, Kecamatan Pamenang Barat, Kabupaten Merangin, semakin marak. Pantauan media ini di lapangan menemukan sejumlah mesin dompeng yang beroperasi di pinggir Sungai Balenggo.

Berdasarkan keterangan salah seorang pekerja, mesin dompeng tersebut diketahui milik beberapa orang, yakni H. Zul, Lek Man, dan Gani. “Temui saja orang itu,” ujar salah satu pekerja kepada wartawan saat ditanya soal kepemilikan mesin.

Baca Juga :  Mahasiswa dan Pemuda Merangin Geruduk Polda Jambi, Buntut BB Operasi PETI

Aktivitas PETI jelas melanggar Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara (Minerba). Pelaku penambangan emas ilegal dapat dijerat pidana penjara serta denda maksimal Rp100 miliar.

Baca Juga :  Kejari Merangin Kasih Deadline Senin Pekan Depan ke Mantan dan Anggota DPRD Merangin, Ada Apa..???

Selain melanggar hukum, dampak nyata dari aktivitas PETI juga mulai dirasakan masyarakat. Sungai Balenggo yang sebelumnya jernih kini berubah keruh. Kondisi ini membuat warga yang memiliki kebun di sekitar sungai merasa tidak nyaman, karena air sungai sudah tidak layak lagi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga :  Pemerintah Pusat Pangkas Dana TKD, Anggaran Sungai Penuh dan Kerinci turun di tahun 2026

Masyarakat berharap aparat penegak hukum (APH), pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten segera turun tangan menertibkan aktivitas penambangan ilegal tersebut. Penindakan diharapkan dapat menjaga kelestarian alam dan kenyamanan lingkungan, sekaligus memberikan kepastian hukum sesuai aturan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.***

Arie