Capaian pada triwulan III menjadi bagian penting dalam evaluasi kinerja investasi nasional. Pemerintah masih memiliki satu triwulan terakhir untuk mengoptimalkan masuknya modal, baik dari investor dalam negeri maupun luar negeri.
Selain mendorong realisasi investasi, penyerapan tenaga kerja juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian. Sepanjang Januari–September 2026, kegiatan investasi yang dilaporkan tercatat menyerap sebanyak 2.194.496 tenaga kerja.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi aktivitas penanaman modal terhadap kesempatan kerja. Namun, data ini secara khusus menggambarkan penyerapan tenaga kerja dari kegiatan investasi yang dilaporkan dan tidak mencakup keseluruhan penciptaan lapangan kerja nasional.
Investasi di Luar Jawa Sedikit Lebih Besar
Dari sisi geografis, persebaran investasi nasional menunjukkan kontribusi yang relatif berimbang antara Pulau Jawa dan wilayah di luar Jawa.
Investasi di luar Jawa mencapai Rp779,4 triliun atau sekitar 50,6 persen dari total realisasi. Sementara itu, wilayah Jawa mencatatkan investasi sebesar Rp759,8 triliun, dengan porsi 49,4 persen.
Untuk tingkat provinsi, DKI Jakarta menempati posisi teratas dengan realisasi investasi sebesar Rp249,3 triliun. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan Rp229,1 triliun.
Sulawesi Tengah berada di urutan selanjutnya dengan capaian Rp116 triliun, disusul Jawa Timur sebesar Rp110,5 triliun dan Maluku Utara yang mencatatkan investasi Rp96 triliun.
Data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas penanaman modal tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sejumlah wilayah di luar Jawa juga mencatatkan nilai investasi yang besar, terutama daerah yang menjadi lokasi kegiatan industri dan pengembangan usaha.




