Karena itu, kemitraan strategis dengan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.
“Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi,” jelas Kathy.
Pentingnya kemitraan juga disampaikan Presiden ExxonMobil Indonesia, Wade Floyd. Ia mencontohkan perjalanan panjang ExxonMobil di Indonesia yang telah berlangsung selama 128 tahun, termasuk melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang menjadi salah satu penopang produksi minyak nasional.
“Sejarah panjang kami dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini,” kata Wade.
Semangat memperkuat kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus FOREK Hulu Migas 2026. Forum ini mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya saing investasi, mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, serta mendukung peningkatan produksi dan ketahanan energi nasional.
Daya saing investasi tidak ditentukan oleh satu faktor. Kebijakan fiskal, skema kontrak, proses bisnis, teknologi, infrastruktur, kepastian pasar, serta kecepatan pengambilan keputusan merupakan bagian dari satu ekosistem investasi yang perlu diperkuat secara bersama-sama.
Insentif juga menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan keekonomian proyek. Namun, keberhasilannya perlu tercermin melalui tambahan investasi, peningkatan cadangan dan produksi, kenaikan lifting, penerimaan negara, serta manfaat ekonomi yang lebih luas.




