Selain iklim investasi, kecepatan eksekusi proyek juga menjadi salah satu sinyal penting bagi investor. Semakin panjang waktu yang dibutuhkan sejak penemuan (discovery) hingga proyek mulai berproduksi (onstream), semakin besar pengaruhnya terhadap persepsi investor maupun keekonomian proyek.
Karena itu, sinergi antarpemangku kepentingan dinilai penting untuk mendorong percepatan pelaksanaan proyek migas.
“Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” ujar Pri Agung.
Dari sisi fiskal, Pri Agung menilai pemerintah telah melakukan sejumlah perbaikan yang positif. Namun, persaingan dalam mendapatkan modal global tetap ketat karena proyek migas di Indonesia harus bersaing dengan berbagai portofolio investasi di negara lain.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan investasi juga tidak cukup hanya diukur dari kenaikan nilai investasi. Dampaknya perlu tercermin melalui indikator yang lebih konkret, terutama peningkatan cadangan dan produksi migas.
Kepercayaan investor terhadap sektor hulu migas antara lain tercermin dari keputusan investasi dan realisasi proyek di lapangan. Proyek strategis seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan Wilayah Kerja (WK) migas baru menjadi momentum yang perlu terus dikawal hingga setiap tahapan proyek dapat direalisasikan.
Regional President Asia Pacific bp, Kathy Wu, dalam sebuah konferensi migas beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa persaingan untuk mendapatkan alokasi modal di tingkat global semakin ketat.




