Keracunan Massal MBG di Muaro Jambi: 104 Korban, SPPG Sengeti Disetop

Avatar
Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, Budi Hartono (Kiri), didampingi Kepala Dinas Kesehatan Aang Hambali

Muaro Jambi– Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bersumber dari SPPG Sengeti kembali bertambah. Hingga Jumat malam, 30 Januari 2026, jumlah korban tercatat mencapai 104 orang, terdiri dari peserta didik berbagai jenjang, balita, hingga guru.

Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, Budi Hartono, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Aang Hambali, menyampaikan bahwa sebagian besar korban telah mendapatkan penanganan medis di RSUD Ahmad Ripin.

Baca Juga :  Usulan Aliansi Pengangkut Batu bara Tebo kepada Pemenggang Izin usaha Pertambangan Tidak sesuai Dengan harapan

“Data terakhir yang masuk, ada 102 orang yang dirawat di RSUD Ahmad Ripin. Korban berasal dari TK, SD, SMP, dan satu orang siswa SMA. Selain itu, ada juga guru yang ikut terdampak,” kata Budi Hartono kepada wartawan, Jumat malam.

Ia menjelaskan, terdapat kasus di mana makanan MBG dibawa pulang oleh siswa dan kemudian dikonsumsi anggota keluarga lain, sehingga memperluas jumlah korban.

Baca Juga :  Jalan Simpang Niam- Lubuk Kambing Terancam Longsor, Warga: Jika Badan Jalan Ambruk, Ekonomi Warga Akan Lumpuh Total

Bahkan, dua balita dilaporkan harus dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi untuk penanganan lanjutan.

“Balita yang dirujuk masing-masing berusia 1 tahun 4 bulan dan 2 tahun 9 bulan,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi memastikan seluruh korban tertangani dengan baik. RSUD Ahmad Ripin disebut telah mengerahkan tenaga medis secara maksimal untuk memberikan pelayanan terhadap lonjakan pasien akibat insiden tersebut.

Baca Juga :  PEMERHATI POLITIK GAMAN SAKTI, KEHADIRAN AFRIANSYAH BERIKAN BABAK BARU BURSA CAKADA TEBO

Sebagai langkah antisipasi, operasional SPPG Sengeti dihentikan sementara. Keputusan ini diambil usai rapat bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pemerintah Provinsi Jambi.

“Seluruh sampel makanan, baik yang tersisa di dapur SPPG maupun yang ada di sekolah-sekolah, sudah diamankan untuk diuji di laboratorium. Setelah hasil keluar, baru akan diketahui di mana letak kelalaian yang terjadi,” ujar Sekda.