Lebih Sebulan Tak Ngantor, Kades Telun Diterpa Dugaan Korupsi

Avatar
“Kantor Kepala Desa Telun, Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, tampak sepi tanpa aktivitas. Warga menyebut Kades jarang masuk kantor lebih dari satu bulan terakhir.(INJ/Arie)

MERANGIN – Kepala Desa (Kades) Telun, Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, kembali jadi sorotan tajam. Tim media infonegrijambi.id saat melakukan investigasi lapangan pada Senin (25/8/2025) menemukan sejumlah indikasi kuat adanya penyalahgunaan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2025.

Fakta pertama yang mencolok adalah absennya baliho Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) 2025 yang semestinya dipasang sebagai bentuk keterbukaan kepada masyarakat. Padahal, transparansi anggaran merupakan kewajiban hukum sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Baca Juga :  Satgas TMMD Ke-123 Kodim 0416/Bute Tingkatkan Sarana Pendidikan di Desa Teluk Kuali

Tak hanya itu, sejumlah warga mengungkapkan bahwa Kades Telun sudah lebih dari sebulan tidak pernah pulang ke desa maupun berkantor. “Pak Kades sudah lama tidak kelihatan, lebih dari sebulan tidak pernah ngantor,” ungkap salah seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan. Kondisi ini jelas menimbulkan keresahan dan menandakan lemahnya tanggung jawab seorang kepala desa.

Baca Juga :  H Mukti Tinjau Stand Merangin di Pameran STQH XXVII

Pernyataan warga tersebut juga dikuatkan oleh perangkat desa yang enggan disebut namanya. Ia membenarkan bahwa pemerintahan desa tidak berjalan normal akibat absennya kades. Situasi ini menambah panjang daftar keluhan masyarakat yang merasa ditinggalkan oleh pemimpinnya sendiri.

Baca Juga :  Sosialisasi 4 pilar Elpisina Anggota DPR/MPR RI Fraksi PKB Dalam 4 Pilar Kebangsaan

Lebih ironis, tim media menemukan proyek jalan rabat beton yang dibiayai Dana Desa dalam keadaan terbengkalai. Warga menuturkan pekerjaan sudah terhenti dua minggu lantaran dana habis dan material pembangunan masih menunggak pembayaran di toko. “Pekerja tidak mau lanjut karena upah belum dibayar,” kata warga dengan nada kecewa.

You cannot copy content of this page