infonegerijambi.id – Ekonomi Indonesia dinilai tetap berada pada jalur yang relatif aman dan belum menunjukkan tanda-tanda resesi, meskipun sejumlah tekanan mulai dirasakan di tingkat masyarakat. Hal ini disampaikan pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menanggapi hasil survei yang dirilis LPEM UI.
Ia menegaskan bahwa hasil survei tersebut sebaiknya tidak ditafsirkan secara berlebihan, karena hanya mencerminkan persepsi para ahli dan bukan kondisi riil ekonomi secara menyeluruh.
“Survei sentimen itu penting, tapi tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan. Harus dikombinasikan dengan data makro dan kondisi mikro di lapangan,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Dari sisi makro, Noviardi menilai fundamental ekonomi nasional masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tercatat di kisaran 5,11 persen, sementara untuk 2026 diperkirakan tetap stabil di rentang 5,0 hingga 5,4 persen.
Selain itu, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian juga masih tumbuh sekitar 4,9 persen, yang menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan.
“Pertumbuhan di atas 5 persen masih menunjukkan kondisi yang sehat. Ini menandakan ekonomi kita tetap kuat meskipun ada tekanan global,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui adanya tekanan dari sisi harga. Kenaikan inflasi dari sekitar 3,5 persen pada Januari 2026 menjadi 4,7 persen pada Februari 2026 mulai berdampak pada daya beli masyarakat.
Menurutnya, masyarakat masih melakukan konsumsi, namun dengan pola yang lebih selektif akibat kenaikan harga barang dan jasa.




