Akibatnya, kemampuan ban untuk mencengkeram aspal menurun. Pengemudi pun dapat mengalami kesulitan mengendalikan arah kendaraan, melakukan pengereman, atau mempertahankan kestabilan saat melaju.
Salah satu tanda aquaplaning adalah setir terasa lebih ringan dari biasanya. Kendaraan juga bisa terasa seperti melayang atau tidak merespons gerakan kemudi secara normal. Jika kondisi ini terjadi, pengendara harus tetap tenang dan menghindari manuver mendadak.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Aquaplaning
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko aquaplaning saat berkendara di musim hujan.
Pertama, kecepatan kendaraan. Semakin tinggi kecepatan saat melintasi genangan, semakin sulit bagi alur ban untuk membuang air secara efektif. Karena itu, pengendara perlu menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan dan intensitas hujan.
Kedua, kondisi ban yang sudah aus. Ban dengan kembangan tipis memiliki kemampuan membuang air yang lebih rendah dibandingkan ban dengan alur yang masih baik. Hal ini membuat risiko kehilangan daya cengkeram meningkat ketika kendaraan melewati jalan basah.
Ketiga, kedalaman genangan air. Genangan yang cukup dalam dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya lapisan air di antara ban dan permukaan aspal. Kondisi jalan yang berlubang atau tidak rata juga dapat menambah risiko gangguan kestabilan kendaraan.
Keempat, tekanan angin ban yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan. Tekanan ban yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat memengaruhi karakteristik kontak ban dengan jalan. Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan angin perlu dilakukan secara berkala sesuai petunjuk pabrikan.




