Pada akhirnya, kita perlu mengubah paradigma agar pendidikan lingkungan tidak hanya menjadi “tempelan” kurikulum. Kita harus berani melirik kembali kearifan lokal masyarakat adat yang selama ini memiliki hubungan paling harmonis dengan alam tanpa perlu gelar formal. Kesadaran lingkungan yang sejati seharusnya lahir dari rasa empati dan keberanian untuk bersikap kritis terhadap sistem yang eksploitatif. Tanpa itu, peringatan Hardiknas tahun ini hanya akan menjadi pengulangan retorika. Kita tidak butuh lebih banyak penghafal jenis-jenis polutan; kita butuh generasi yang merasa sakit saat melihat alamnya dirusak dan memiliki daya untuk memperbaikinya.(*)
Menanam Pohon di Buku, Menebang Hutan di Realita
Rekomendasi untuk kamu

Dengan kemenangan meyakinkan ini, Tasa FC kini melangkah ke pertandingan berikutnya dengan rasa percaya diri…

Dengan kegiatan ini, SMAN 3 Tebo menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang sehat, berkarakter,…

TEBO – Dugaan pungutan liar (pungli) dan penyelewengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mencuat di…
