Pengamat: Ekonomi RI Masih Stabil, Tekanan Lebih Terasa di Level Mikro

Avatar

“Daya beli memang mulai tertekan. Orang tetap belanja, tapi lebih berhati-hati. Ini yang kemudian memunculkan kesan ekonomi melemah,” katanya.

Dari sisi kebijakan moneter, suku bunga acuan berada di level 4,75 persen, mencerminkan langkah hati-hati otoritas dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar. Sementara kurs rupiah bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Baca Juga :  Ratusan Warga Desa Punti Kalo Tebo Protes Tanah yang Dipatok TNI

Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih dominan di sektor mikro, terutama terkait kualitas tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja masih terjadi, namun belum diimbangi dengan peningkatan kualitas pekerjaan.

“Persoalannya bukan sekadar ada pekerjaan atau tidak, tapi kualitasnya. Banyak pekerja berada di sektor informal dan upah riilnya tergerus inflasi,” ungkapnya.

Di sisi lain, dunia usaha juga masih cenderung berhati-hati. Aktivitas bisnis tetap berjalan, namun ekspansi dilakukan secara terbatas karena mempertimbangkan ketidakpastian global dan kenaikan biaya produksi.

Baca Juga :  FIFGROUP PEDULI Jam Sosial Mengajar di Kota Merangin

“Pelaku usaha tetap bergerak, tapi fokusnya menjaga stabilitas. Investasi masih ada, namun belum agresif,” tambahnya.

Noviardi juga mengingatkan agar narasi pesimisme tidak dibesar-besarkan, karena dapat memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat dan pelaku usaha.

Baca Juga :  Debt Collector yang Caci Maki Polisi, Ditangkap di Maluku

“Jika persepsi negatif terus berkembang, bisa berdampak nyata. Konsumsi bisa tertahan, investasi ditunda, dan akhirnya ekonomi benar-benar melambat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, melainkan pada kualitas dan pemerataannya. Pemerintah diharapkan fokus menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, serta mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif.