Ia bahkan membandingkan kondisi kebun mitra dengan kebun petani mandiri. Menurutnya, banyak petani otodidak yang justru berhasil mengelola kebunnya dengan baik meski tanpa tenaga ahli. “Masak kalah dengan petani otodidak, sementara perusahaan punya tenaga ahli perkebunan,” sindirnya.
Keluhan senada juga diutarakan sejumlah anggota koperasi. Mereka menegaskan, kebun sawit adalah sumber penghidupan utama warga, sehingga perusahaan dituntut benar-benar menjalankan komitmen kemitraan, bukan sekadar di atas kertas. “Kalau perawatan maksimal, semua pihak diuntungkan, baik petani maupun perusahaan,” ujar salah satu anggota.
Para petani menekankan, kemitraan hanya bisa berjalan baik jika ada komunikasi terbuka dan keseriusan dari kedua belah pihak. Mereka mendesak PT Tebo Indah segera mengambil langkah konkret memperbaiki manajemen perawatan kebun agar persoalan ini tidak berlarut-larut.
“Kebun selebar telapak tangan saja dirawat penuh fasilitas, masa kebun mitra dibiarkan semak. Biaya operasional besar diambil dari hasil kebun, tapi tolonglah kebunnya juga dirawat agar sama-sama untung,” pungkas Sulaiman. ***




